Jumat, 23 November 2012

Nilai Budaya Mandar dalam Sejarah




Menurut Prof. Dr. Darmawan Mas'ud Rahman, M.Sc. pada awalnya kata "Mandar" itu bukanlah suatu penamaan yang terkait dengan geografis dan demografis, tapi merupakan kumpulan nilai-nilai yang bertitik tolak kepada sistem nilai budaya luhur yang berasal dari kata "Wai marandanna o di ada' o di biasa" (kejernihan dari adat dan kebiasaan leluhur).
Untuk menjadi orang Mandar seseorang wajib mengenal inti dari nilai passemandaran (rasa mandar) merupakan puncak nilai yang terkandung di dalam tallu ponna attongangan (tiga dasar kebajikan), yaitu :
-
 mesa, ponge'pallangga ; aspek ketuhanan.
-
 Da'dua, tassisara ; aspek hukum dan demokrasi.
Tallu, tammalaesang ; aspek ekonomi, aspek keadilan dan aspek persatuan.
Ketiga dasar kebajikan tersebut dijabarkan dalam Annang Pappeyapu di Lita' Mandar (enam pegangan utama di tanah Mandar), yaitu :
1. 
Buttu Tandira'bai (tegaknya hukum secara utuh)
2.
 Manu' tandipessisi' (demokrasi dalam segala lini kehidupan)
3. 
Bea' tandicupa' (ekonomi kerakyatan yang merata)
4. 
Karra'arrang tandidappai (keadilan tanpa takaran)
5.
 Wai tandipolong (pertsatuan yang berkesinambunga)
6.
 Buttutanditema' diammemanganna tokuana tokua (keutuhan keyakinan akan kekuasaan zat yang Maha Tinggi)
Keseluruhan nilai itu barada di dalam satu bingkai kokoh mesa tanggesar yaitu O di ada' O di biasa (sesuai dengan adat dan kebiasaan adat). Odi ada' odibiasa inilah suatu penanda masyarakat egalitarian, karena orang mandar tidak menganal konsep to menurung yang melahirkan masyarakat yang mempunyai stratifikasi sosial yang ketat berdasarkan darah to manurung dan darah orang kebanyakan. hal tersebut ditegaskan oleh Puang Dipojjosang ke-2 yaitu I Pasu Tau Taji Barani yang menyatakan di hadapan Tomepayung bahwa kriteria utama seorang Mandar :
Ita to mandar cera mappammula sipa meppaccappurang disesena taupiyatonganan.
(kami orang mandar kriteria darah hanya pada awalnya dan sifatlah yang menetukan pada akhirnya bagi orang yang mempunyai kebajikan).
Sifat itu tercermin didalam ajaran luhur orang mandar yang disebut limai gau diajappiu na disanga peramata matappa (lima perbuatan sebagai pertama yang percaya) yaitu :
1.
 Lappu' sola rakke' (jujur bersama takut kepada sang pencipta).
2.
 Loa tongang sola mattikka (perkataan benar bersama waspada).
3.
 Akkalang sola nia' mappaccing (akal bersama niat yang suci).
4.
 Siri' sola pannassa (siri' bersama keyakinan).
5.
 Barani sola pappejapu (berani bersama ketetepan hati).
Perbuatan tersebut di atas terhalang apabila :
1.     Naiyya massamboi lappu gau' bawang (Adapun menutupi kejujuran adalah perbutan sia-sia).
2.     Naiyya massamboi loa tangang alosongan (adapun yang metutupi perkataan yang benar adalah dusta).
3.     Naiyya massamboi akkalang abiloang (adapun yang menuputi akal sehat adalah kebodohan).
4.     Naiyya massamboi siri' ke'la-ke'la (adapun yang menutipi siri adalah pikiran jahat).
5.     Naiyya nassamboi adaraniang bila balla (adapun yang menutupi keberanian adalah khianat).
Cerminan dan aplikasi nilai budaya tersebut terdapat dalam :
-
 Loa mappa'bati di ada' (perkataan tercermin didalam adat).
-
 Ada mappa'bati di kedo (adat tercermin di dalam perbuatan).
-
 Kedo mappa'bati di gau' (perbuatan tercermin dalam prilaku).
-
 Gau' mappa'bati di tau (prilaku tercermin dalam manusia).
-
 Tau mappa'bati di siri' (manusia tercermin di siri).
-
 Siri' mappa'bati di lokko' (siri tercermin dalam martabat dan harga diri yang mandalam).


Berbagai konsep-konsep kebijakan dan nilai-nilai luhur kemandaran dalam sejarah lontar Mandar yang berkaitan dengan kemasyarakatan saat ini :
a. Kesepakatan
Mua purami dipallandang bassi pemali diliai mua purami di pobamba pamali dipepondoi di sesena attongangan bassi lambbottu palabung tarrabba.
(Apabila sudah di tantukan sesuatu haranm untuk dilangkai, kalau sudah di ucapkan/disepakati pantang dilankai, aturan harus tetap berjalan sesuai dangan asasnya).
b. Penegakan Hukum
Naiyya ada' tammalo pai dipasoso'tatti, tonggang pai lembarna, takkeindo pai, takkeamapai, takke lelluluare' pai, takke sola pai, takkewali pai, andiappa to dikalepa'na andiang to di suliwanna, andiang to na poriona, andiang to nabire'na, tammappucung, tandoppas toi.
(yang disebut Badan Penegak Hukum adalah tegas dalam mengambil keputusan, tidak berat sebelah, tidak beribu, tidak berbapak, tidak punya saudara, tidak punya teman, tidak punya musuh, tidak diiming-iming kesenangan, tidak punya anak buah dan tidak pernah serakah).
c. Mencari Kebenaran - Puang Sando
Appe rupanna uru bicara tutumasagala balibali palao balibali sa'bi balibali.
(ada 4 pokok untuk memutuskan suatu masalah yaitu meneliti dan menganalisis perkataan kedua belah pihak, kata benar dari keluarga kedua belah pihak, saksi yang terpercaya dari kedua belah pihak).
d. Demokrasi - Mallikkrodt
Mua' mendi-mendi oloi elo'na to arajang disesena odiada odibiasa, turu'i ada'.
Mua' mendi-mendi oloi elo'na ada' disesena odiada odibiasa, turu'i toarajang.
(Apabila keinginan bangsawan raja agak kedepan sesuai dengan adat dan kebiasaan adat, maka bangsawan adat hendaknya ikut. Begitu juga sebaliknya).
e. Otonomi - Daetta Kanna I Pattang
Madondong duambongi anna diang api dinauang bakarna napi'deitoi tia alabena, mua' andiani mala napi'dei pendoamo'o lao di indo ada'mu, mua pitumbongi pitungallo andiangi mala mupi'dei siola indo ada'mu pendo'a mo'o diama ada'mu, apa nasiola mo'o mappi'dei.
(suatu hari apabila ada masalah di suatu wilayah maka sebaiknya masalah itu dapat diselesaikan sendiri dan jika tidak dapat diselesaikan hendaknya engkau meminta pertolongan kepada Ibu adatmu. Jika tujuh hari tujuh malam belum dapat diselesaikan hendaknya engkau datang ke Bapak adatmu untuk datang bersama-sama meredam api itu).
Kaiyang tammaccinna dikende-kende'na, kende-kende' tammaccinna dikaiyanganna.
(yang memerintah seharusnya tidak memaksakan kemauan kepada rakyat dan rakyat tidak seharusnya memaksakan kehendak kepada yang memerintah).
f. Konsep Kepimimpinan - Tomatindo Dilangganna
Pallaku lakuanni mie lita'mu, apa' madondong duambongi inai-inai mala mappatumballe' lita di Balanipa, ia tomo tia na dianna dai dipeuluang, na dipesokkoi anna malai toma'tia naung di tambing mangngada' dai.
(Pertahankanlah tanah air anda bila suatu hari siapapun yang dapat menyelamatkan negeri Balanipa ia berhak diangkat sebagai pemimpin dan saya akan turun tahta dan mendukung dengan sepenuh hati).
Mara'diamo tu'u na ma'asayangngi banua siola pa'banua, anna mara'dia tomo rapang ponna ayu na naengei mettullung pa'banua.
(Rajalah yang akan menyayangi negeri dan rakyat, dan raja pula bagaikan pohon kayu tempat rakyat berlindung).
g. Persatuan 
- Ammana Wewang / Ammana Pattolawali
Dotai tau siamateang mie na membere di olona lita' dadi nanaparenta tedong pute to kaper.
(lebih baik mati berkalan tanah dari pada diperintah oleh Belanda si Kafir laknat).
- Pitu Babana Binanga anna Pitu Ulunna Salu (Allamungan Batu di Luyo)
·         Ta'lemi manurunna paneneang uppasambulo-bulo ana' appona di Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga, nasa'bi dewata diaya,  dewata diong, dewata di kanang, dewata dikairi, dewata diolo, dewata diboe', menjarimi passemandarang.
·         Tannipasa' tanniatonang, ma' allonang mesa malatte samballa, siluang sambu-sambu, sirondong langi-langi, tassi pande peo'dong, tassi pande pelango, tassipelei di panra', tassialuppei diapiangang.
·         Sipatuppu diada', sipalele dirapang, ada tuo di Pitu Ulunna Salu, ada' mate di Muane ada'na Pitu Babana Binanga.
·         Saputangan di Pitu Ulunna Salu, simbolong di Pitu Babana Binanga.
·         Pitu Ulunna Salu memata di sawa, Pitu Babana Binanga memata di mangiwang.
·         Sisara'pai mata malotong anna mata mapute, anna sisara' Pitu Ulunna Salu - Pitu Babana Binanga.
·         Mua diang tomangipi niangidang mambattangang tommu-tommuane, iya namappasisara' Pitu Ulunna Salu - Pitu Babana Binanga, pasungi ana'na anna mumanusangi sau di uai tammembali.
Artinya :
·         Sudah terfakta kesaktian leluhur moyang menyatu bulatkan anak cucunya di Putu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga, diatas kesaktian dewata di atas, dewata di bawah, dewata di kanan, dewata di kiri, dewata di muka, dewata di belakang, lahirlah persatuan seluruh Mandar.
·         Tak berpetak tak berpembatas, bersatu tikar bertikar selembar, sepembalut tubuh, selangit-langit, saling tidak memberi makanan rusak, saling tidak memberi minuman rusak, saling tidak meninggalkan dikesusahan, saling tidak melupakan pada kebaikan.
·         Saling menghormati hukum dan peraturan masing-masing, hukum hidup di Pitu Ulunna Salu, hukum mati di suami adatnya Pitu Babana Binanga.
·         Pitu Ulunna Salu menjaga ular (musuh dari darat/hutan), Pitu Babana Binanga menjaga hiu (musuh dari laut).
·         Bila berpisah mata hitam dan mata putih, maka dapatlah pisah Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga.
·         Bila seseorang bermimpi mengidamkan seorang anak lelaki yang bakal memisahkan Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Babana Binanga, bersepakatlah untuk segera membedah perut yang hamil itu, lalu keluarkan bayi laki-laki itu, kemudian hanyutkan ke air yang tidak mungkin kembali lagi.
h. Menjaga amanah
Ropo'mo mai bulang, tililimo'o sau buttu, tannaulele diuru pura loau, dotami iyami sisara' uli'i anna sisara' uru pura loai.
(Sekiranya bulan akan runtuh, runtuhlah, gunung akan terbang, terbanglah, namun saya tidak akan beranjak dari kata semula, lebih baik kepala kami berpisah dengan badan dari pada mengingkari kata semula).
i. Kesetiakawanan
Naruao lembong narua toa', tumbiringo'o na mallewaima', tallango'o na mattimbaima, nyawa siandarang, cera' silolongngi.
(Engkau terkena ombak saya juga terkena, engkau goyah saya stabilkan, engkau tenggelam saya apungkan, jiwa melayang bersama, darah mengalir bersama).
j. Transparansi - Pesan todilaling sebelum meninggal
Madondong duambongi anna matea, mau ana'u mau appou, da muannai dai di pe'uluang mua' mato'dori paunna, masu'angi pulu-pulunna, apa iyamo tu'u marruppu-ruppu' banua.
(Bila suatu saat saya meninggal dunia, sekalipun anak ataupun cucu saya, jangan diangkat menjadi pemimpin bila berucap kasar, berperilaku tidak terpuji, karena manusia semacam ini akan menghancurkan negeri).
k. wawasan ke depan
Sailei gau' pura loa, pe'gurui tongangi gau mamanya, na mupijarammingi disese apianna gau manini makkeguna di alawemu anna lita'.
(Tengoklah perbuatan yang telah dilakukan masa lalu, pelajari dengan kesungguhan perbuatanmasa kini, agar ia menjadi cermin dan ia berguna untuk dirimu dan untuk tanah air).
l. Akuntabilitas
Akuntabilitas di dalam budaya Mandar mempunyai kelebihan dari akuntabilitas yang lain. Sebab akuntabilitas di Mandar bukan akuntabilitas instansi atau ebuah komunitas tertentu. Di Mandar akuntabilitas perorangan manusia terhadap alam (tuhan), manusia dan pada diri sendiri.
Alawe membolong di nawang, nawang membolong di alawe, alawe membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe, alawe membolong di atauang, atauang membolong di alawe.
(diri manusia adalah bagian dari alam (Tuhan) dan alam adalah bagian dari diri manusia, diri manusia adalah bagian dari adat istiadat kemasyarakatan dan adat istiadat kemasyarakatan adalah bagian dari diri manusia, diri manusia adalah bagian dari pribadiya sendiri dan diri pribadi manusia adalah bagian dari dirinya sendiri).
m. pengawasan
Naiya mara'dia, tammatindo di bongi, tarrarei di allo, na mandandang mata di mamatanna daung ayu, di malimbonganna rura, di madinginna lita', di ajarianna banne tau, di aatepuanna agama.
(kewajiban seseorang pemimpin, tidak dibenarkan tidur lelap di waktu malam, berdiam diri dan berpangku tangan di waktu siang hari, seorang pemimpin wajib memikirkan akan kesuburan tanah, pengembangbiakan tanaman, berlimpah ruahnya tambak dan perikanan, damai dan amanlah negar, sehat dan berkembanglah penduduk dan sempurnanya ajaran agama).
Bila hal ini bertentangan akan terjadi loppa' lita' (tanah jadi panas), sai (tanaman rontok), polei pangolle' (banjir), mangandei api (kebakaran), mara'ei tana-tanang (tanaman kering), yang akan menyengsarakan rakyat.
n. Profesionalisme
Diajumai pai tu'u mesa gau' anna dialai asselna, asselnamo tu'u mappannassa di marorona pau, kedo anna gau anna mala makkeguna di alawe, di jama-jamang anna lita. 
(dengan kerja keras seseorang dapat mengandalkan diri sendiri yang tercermin dari cara bicara, perbuatan, dan pergaulan agar ia dapat berguna untuk kepentingan karir diri demi negeri).
Nakodai mara'dia anna abanua kaiyang toilopi.
(Pemimpin bagaikan nahkoda, tanah negeri adalah empunya perahu)

“Baca Juga Artikel Terkait Yang Lebih Keren Di Muh abdillah Blog”

1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai nilai budaya mandar dalam sejarah.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di http://indonesia.gunadarma.ac.id

    BalasHapus

Blogger Template by Clairvo