Jumat, 23 November 2012

Pertemuan untuk akhiri konflik Mandar dan Bone


Pertemuan untuk akhiri konflik Mandar dan Bone


Pada penghujung abad XVII masehi, diadakan sebuah pertemuan antara Torisompae Arung Pone (Raja Bone) dengan Daeng Riosoq (Maraqdia/Raja Balanipa) di Lanrisang (sekarang daerah Jampue Kabupaten Pinrang).
Pertemuan ini dilaksanakan untuk menyelesaikan konflik antara kedua kerajaan yang berawal dari kejadian dimana Kerajaan Bone menyerang daerah Mandar.
Awal dari pertikaian ini disebabkan karena Kerajaan Bone yang bekerjasama dengan Tentara Belanda ingin mengadakan penyerangan ke kerajaan Gowa. Kerajaan Bone pun meminta bantuan ke wilayah Mandar, akan tetapi Kerajaan di Mandar menolak.
Hal ini disebabkan karena Kerajaan di Mandar tetap konsisten pada perjanjian dengan Kerajaan Gowa yang sudah disepakati, dan juga Kerajaan di Mandar tidak mau berurusan dengan Pihak Belanda. Akhirnya wilayah Mandar diserang oleh Bone, hingga Soreang Balanipa (sekarang Kandeapi), dibakar habis. Tapi perlawanan pasukan Kerajaan Balanipa berhasil mendesak mundur pasukan Kerajaan Bone pada saat itu.
Dalam penyerangan ke Kerajaan Gowa, Kerajaan Gowa kalah dan dikuasai oleh Kerajaan Bone dimana rajanya turun tahta digantikan oleh Raja Bone.
Setelah kemenganan di Gowa tersebut, pertikaian dan peperangan antara Kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan di Mandar (khususnya Pitu Babana Binanga) tetap berlanjut, karena pada saat sebelum menyerang ke kerajaan Gowa, kerajaan Bone menuduh Mandar bersekutu dengan Gowa.
Bone kembali menyerang dan kali ini juga terdapat pasukan Kerajaan Gowa. Pihak Mandar jadi kebingungan melihat keterlibatan Gowa dalam penyerangan kali ini.
Seusai perang itulah, Pertemuan di Lanrisang dilaksanakan, dalam hal ini Kerajaan-kerajaan Mandar di wakili oleh Kerajaan Balanipa. Secara umum dari pertemuan ini melahirkan kesepakatan untuk menghentikan perang dan permusuhan kedua belah pihak serta menjalin persaudaraan dan kerjasama terutama dalam hal menghadapi Belanda yang sudah banyak ikut campur dalam urusan pemerintahan di kerajaan masing-masing.
Prosesi pertemuan di Lanrisang ini tertuang dalam lontar Balanipa Mandar sebagai berikut :
Fashlun. Engkani menreq-e Lanrisang situdangeng to Bone Menreq-q.
Makkedani Menreq-e ; "Bone mua silaoang Soppeng ulaori. Metauqkaq kassa ri Balandae".
Makkedani Arung Pone ; "Ajaq metauq siajiang. Iyaqna sia taroiwi Balandae. Maeloq-i mala gajang, gajannapa Bone. Maeloq-i riwarang parang, warang parakupa nala".
Makkedani Menreq-e ; "Iyana kiella-ellau, arolange mua rikaraengnge kiarolai ri Bone. Kuwae topa kipo rapangnge rapammeng, enrengnge topa kipo bicarae bicarammeng, kipoadaq-e adammeng".
Makkedani Arumpone ; "Upappada mua tanae ri Bone tanae ri Menreq usapparanna deceng. Masse ajimuiq sia. Padania marola ri petta Nabie Muhammad SAW, pada pobicaraiq bicaratta, pada porapangngiq rapatta, pada lete ri petawung majekkota, tessi acinnangnge ri abeccukang tessi acinnangngeto ri arajang. Tessi pataqde waram parangngiq, tessipolo lenjengngiq, tessi tato lariwiq. Makkedai Bone nama teppaq Menreq-e, makkedai Menreq nama teppaq Bone. Koniro assituru senna Bone Menreq-e ri lalenna ceppae ri Lanrisang. Inai Arumpone, Torisompae. Inai Maraqdia Balanipa, Idaeng Riosoq.
Terjemahan :
Fasal. Sudah hadir Mandar di Lanrisang, duduk bersama dengan Bone Mandar.
Berkata Mandar : "Bone saja bersama Soppeng yang kami datangi. Kami takut pada Belanda".
Berkata Arung Pone : "Jangan takut saudaraku. Kamilah yang jadi borok (jaminan) pada Belanda. Kalau dia mau ambil keris, nanti keris Bone yang diambil. Dia mau ambil harta, nanti hartaku yang diambil".
Berkata Mandar : "Itulah harapan kami, agar cara kepatuhan kami pada karaeng (Gowe/pen), yang jadi kepatuhan kami ke Bone. Begitu juga kami tetap pakai peraturan kami, dan kami punya hak bicara tetap kami pakai, kami pakai hukum kami".
Berkata Arung Pone : "Saya samakan tanah Bone dengan tanah Mandar, sama-sama saya carikan kebaikan, karena kita adalah berkeluarga. Samalah kita tunduk pada Nabi kita Muhammad SAW, kita sama-sama memakai peraturan kita, sama-sama meniti pada pematang (hukum/pen) lurus kita dan sama-sama menyelesaikan sendiri kemelut hukum kita, saling tidak iri pada kekecilan, tidak pula pada kebesaran. Kita tidak saling menghilangkan harta, juga tidak saling keras mengerasi, tidak perlu saling dongkel mendongkel."
Berkata Bone Mandar percaya, berkata Mandar Bone percaya. Begitulah kesepakatan Bone dengan Mandar dalam Perjanjian Lanrisang. Ialah Raja Bone, Torisompe. Ialah Raja Balanipa, Daeng Riosoq.

“Baca Juga Artikel Terkait Yang Lebih Keren Di Muh abdillah Blog”

0 komentar:

Blogger Template by Clairvo